Portal Nawacita

Bersatu Kita Maju

Ketua MPR: Santri Punya Peran Sentral dalam Pembangunan Nasional

PortalNawacita – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengungkapkan penetapan Hari Santri merupakan bentuk pengakuan pemerintah atas peran besar ulama dan santri memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa monumental Resolusi Jihad, yakni peneguhan komitmen ulama dan santri untuk mempertahankan kedaulatan NKRI pada 22 Oktober 1945 menjadi dasar penetapan Hari Santri Nasional.

“Penetapan Hari Santri patut disyukuri, sebagai rujukan bagi segenap anak bangsa untuk meneladani semangat nasionalisme dan komitmen kebangsaan para ulama dan santri. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, cara terbaik mewujudkan rasa syukur adalah dengan memberikan kontribusi terbaik bagi terwujudnya cita-cita nasional, yaitu mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur,” papar Bamsoet, dalam keterangannya, Rabu (28/10/2020).

Hal itu disampaikan Bamsoet dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI secara virtual bertajuk ‘Dari Santri untuk Negeri: Kontribusi Santri dalam Menjawab Tantangan Kemajuan Zaman’ yang disaksikan civitas UIN Sunan Ampel Surabaya, Selasa (27/10/2020).

Jumlah Pesantren 28.194

Ketua DPR RI ke-20 ini menguraikan berdasarkan data Kementerian Agama tahun 2020, jumlah pesantren di seluruh Indonesia sebanyak 28.194 pesantren dengan 5 juta santri mukim. Jika dihitung secara keseluruhan, termasuk santri non-mukim serta santri pada taman-taman pendidikan Al-Qur’an dan madrasah, maka jumlah total santri se-Indonesia mencapai sekitar 18 juta orang, dengan jumlah tenaga pengajar sekitar 1,5 juta orang.

“Melihat statistik di atas, jumlah santri di Indonesia cukup signifikan, apalagi mayoritas berada di usia produktif. Saat ini kita sedang menjejakkan kaki pada periode awal bonus demografi, di mana kelompok usia produktif mempunyai peran sentral dan signifikan dalam pembangunan nasional,” ungkap Bamsoet.

Bamsoet mengemukakan masih ada stigma yang memandang santri sebagai kultur akademis yang tradisional dan ketinggalan zaman. Namun, kenyataannya ada sejumlah santri yang berprestasi di ajang sains internasional. Artinya santri juga bisa mengikuti perkembangan zaman.

“Ini setidaknya membuktikan tiga hal. Pertama, bahwa keterbatasan dukungan sarana dan prasarana pendidikan di sebagian besar pondok pesantren, tidak menjadi penghalang untuk melahirkan santri beprestasi. Kedua, bahwa sistem pendidikan yang diterapkan di pondok pesantren juga mempunyai daya saing global. Ketiga, meskipun sistem pendidikan di pesantren mengedepankan aspek keagamaan, namun tetap diimbangi dengan aspek-aspek akademis umum lainnya termasuk sains,” ulas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menambahkan banyak pula lulusan santri yang berhasil di bidang kewirausahaan dan menjadi bagian dari penopang perekonomian nasional. Ia mengatakan pemerintah terus berupaya menguatkan literasi keuangan di kalangan generasi muda, termasuk para santri. Para santri, sebut Bamsoet, telah menjadi bagian dari kelompok prioritas pada strategi nasional keuangan inklusif.

“Program pemerintah One Pesantren One Product adalah wujud keberpihakan untuk mendorong kemandirian umat melalui para santri, pondok pesantren dan masyarakat sekitar,” terang Bamsoet.

Bamsoet menyampaikan santri merupakan aset pembangunan bangsa. Kehidupan di pondok pesantren mendekatkan santri pada aspek religiusitas, dengan mengedepankan pendidikan etika dan moralitas dalam kehidupannya. Selama mengikuti pendidikan di pondok pesantren, para santri pun belajar banyak tentang kemandirian, kegotong-royongan, dan kepedulian sosial.

“Selama bertahun tahun mengikuti pendidikan di lingkungan pondok pesantren, para santri senantiasa ditempa menjadi pribadi-pribadi yang berkarakter kuat. Inilah kata kunci dalam pembangunan sumberdaya manusia untuk mewujudkan Indonesia Maju, bahwa yang kita butuhkan adalah sumber daya manusia yang berkarakter kuat sehingga mampu menjawab tantangan zaman,” tutup Bamsoet.[*]

detik.com