Portal Nawacita

Bersatu Kita Maju

Waspada Penjajahan Gaya Baru Bernama Arabisasi

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan angkat bicara terkait maraknya kolonialisasi arabisasi di Indonesia yang menurutnya sudah sangat meresahkan dan membahayakan

Padahal di Arab Saudi sendiri saat ini sudah berubah menjadi modernisasi di berbagai bidang, bahkan beberapa kebijakan sekuler sudah  diterapkan mulai dari diizinkannya gelaran tari samba, diizinkan wanita berbikini, diizinkan minuman keras hingga pencabutan peran polisi syariat.

Ken mengaku dirinya bukan rasis anti Arab, sebab kita tidak bisa request lahir negara tertentu, tapi hanya berbicara fakta yang terjadi di masyarakat, banyak juga sahabat yang keturunan Arab yang baik. 

Arabisasi menurut Ken adalah upaya untuk menerapkan budaya Arab pada suatu tempat, pada sebuah kelompok skala kecil atau besar dengan mengatasnamakan agama.

Padahal agama masuk ke Indonesia itu, untuk diserap ajarannya, bukan budayanya. 

Bahkan dulu, kelompok Arab ini sudah bikin parpol yaitu Partai Arab Indonesia yang semula adalah Persatuan Arab Indonesia pada jaman penjajahan Belanda. 

Pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) juga seorang marga keturunan Arab bernama Dipo Nusantara Al Aidit, Seorang Muslim yang taat dan hafidz quran 30 Juz, ini dibenarkan oleh putranya Ilham Aidit. Menurutnya keturunan marga Al Aidit cukup banyak di Indonesia, terutama di wilayah Sumatera, namun Marga Al Aidit lenyap ditelan bumi setelah ramai kasus G30 S PKI tahun 1965.

Menurut catatan sejarah pada tahun 1960 para Habib keturunan Arab Yaman akan dipulangkan ke negara asalnya oleh Jendral Ahmad Yani atas perintah Presiden Soekarno, ini yang memantik dendam dan kemarahan Al Aidit akhirnya memuncak dan tahun 1965 terjadi gerakan pemberontakan dan penculikan terhadap para jendral, termasuk Jendral Ahmad Yani. 

Pada jaman penjajahan Belanda, kelompok Arab ini memang men dapatkan tempat yang special dimata penjajah. Bahkan derajatnya diangkat lebih tinggi dari masyarakat biasa. Arab seperti bangsawan dan masyarakat sebagai budak. 

Bahkan seorang keturunan Arab bernama Habib Utsman bin Yahya diangkat oleh Belanda sebagai Honorair adviseur (Penasehat Kehormatan) bersama sahabatnya Snouck Hurgronje.

Hal ini menimbulkan perdebatan dimasyarakat saat itu sebab Habib Ustman Bin Yahya dan Snouck Hurgronje dianggap penyusup dan pengkhianat umat Islam.

Ada 2 Tokoh pimpinan Negara Islam Indonesia (NII) yang juga Pendiri Jamaah Islamiyah yaitu:

Abu Bakar Baasyir dan Abdulllah Sungkar adalah keturunan Arab. Termasuk Abdul Qadir Hasan Baraja Tokoh NII yang kini mendirikan ormas Khilafaful Muslimin. 

Menurut Ken, Ada 2 organisasi besar di Indonesia yang menjadi sasaran arabisasi dan banyak tokoh tokohnya sudah banyak yang terpapar yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. 

NU dijajah oleh Kelompok Habib dan Muhamadiyah dijajah Salafi Wahabi dan masing masing kelompok Arab ini juga terpecah belah di antara mereka.

Kelompok Habib bisa masuk ke NU karena dipercaya saat ada keturunan nabi, yang jika mengikutinya akan mendapatkan surga. 

Jadi, jika ada wajah kearab araban dan mengaku habib walaupun nasabnya tidak jelas maka dianggap wajib dihormati dan kasta derajatnya lebih tinggi dari masyarakat biasa. 

Padahal tidak ada jaminan keturunan nabi akan masuk surga. Bahkan dalam, sejarah di Al Qur’an dijelaskan bahwa: jangankan cucunya nabi, Istri dan anak Nabi yang merupakan kerabat terdekat divonis neraka kerena durhaka.

Ada doktrin di masyarakat yang menyebut jika mengikuti cucu nabi akan dijanjikan surga. Sebab cucu nabi adalah orang-orang yang dijamin kesuciannya. Kalaupun melakukan kesalahan atau dosa atau maksiat akan diampuni Tuhan.

Bahkan ada habib yang memberikan statemen bahwa : Belajar ke satu habib yang bodoh sekalipun itu lebih baik daripada belajar ke 70 orang alim atau kiai, Doktrin ini sangat keterlaluan, dan tidak masuk akal. 

Sedangkan kelompok Salafi Wahabi adalah kelompok yang mereka mewajibkan umat Islam mengikuti agama seperti jaman nabi dulu, kelompok ini kaku dalam beragama anti terhadap budaya Anti kearifan lokal. Tidak segan segan mengharamkan : membid’ahkan. Mengkafirkan orang orang yang diluar kelompoknya. 

Banyak Artis, Pejabat bahkan aparat TNI Polri   yang terpapar ajaran Salafi Wahabi, disebabkan salah mengundang penceramah. 

Dampaknya adalah : sering terjadi perpecahan, permusuhan, kedengkian, saling mengkafirkan, menjatuhkan, bahkan saling membunuh diantara umat Islam sendiri yang tidak sepaham dengan mereka. 

Menurut Ken, jika ditelaah lebih dalam, kolonialisasi arabisasi adalah upaya copy paste pergeseran dendam politik konflik Sunni Syiah di timur Tengah ke Indonesia. 

Kalau konflik Sunni Syiah di timur Tengah itu jika ditelusuri lagi juga ada dendam masa lalu antara pendukung keluarga dan sahabat nabi yaitu Abu Bakar, Umar Bin Khatab, Ustman bin Affan dan Ali Bin Abu Thalib. 

Kelompok pendukung Aisyah meyebut dirinya Sunni atau Salafi Pendukung Ali menyebut dirinya sebagai Syiah, dan Syiah ini juga terpecah menjadi beberapa kelompok, ada yg lembut dan ada yang keras. 

Habib di Indonesia mayoritas adalah pendukung Syiah karena mereka adalah garis keturunan dari Ali.

Sebagian aliran Syiah : menganggap bahwa kekuasaan yang diraih oleh ketiga khalifah tersebut ilegal karena merebut hak wasiat yang seharus nya diterima oleh Ali. 

Bahkan keributan antar keluarga Nabi dan pendukungnya ini akhirnya menimbul kan peperangan besar antar keluarga Nabi yaitu antara Aisyah dan Ali Bin Abu Thalib, antara istri Nabi dan sepupu sekaligus menantu Nabi.

Harus diingat bahwa sejarah kelam mencatat dengan tinta darah para sahabat Nabi seperti Umar Bin Khattab meninggal karena diracun, Ustman bin Affan meninggal karena dibunuh saat membaca alquran dan Ali Bin Abu Thalib juga meninggal karena dibunuh oleh tokoh umat Islam juga bernama Abdurrahman bin muljam. 

Sejatinya mereka ribut dan berperang bukan karena mempertahankan agama, tapi memperebutkan kekuasaan atas nama agama

Jika budaya konflik perang tersebut dibawa dan digeser ke Indonesia dan masing masing kelompok Arab itu juga menyebarkan paham dendam kebencian nya kepada masyarakat Indonesia maka hal ini yang sangat berbahaya dan mengakibatkan perpecahan yang sangat luar biasa

Masyarakat Indonesia dengan budaya luhur  nusantara sangat terbuka bagi siapapun. Tanpa pandang bulu baik itu suku, bangsa, ras maupun agama, semua boleh hidup dan tinggal di Indonesia. 

Betul kata Bung Soekarno : Kalau jadi hindu jangan jadi orang India. Kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab. Kalau kristen jangan jadi orang yahudi, tetaplah menjadi orang Indonesia, dengan adat dan budaya luhur Nusantara Tutup Ken.