Portal Nawacita

Bersatu Kita Maju

Sambut Idul Fitri dengan Nuansa Toleransi Beragama di Papua

Di tanah Papua, semangat kerukunan antar umat beragama telah menjadi landasan kuat bagi kehidupan bersama. Keberagaman dalam agama dan kepercayaan tradisional menjadi pilar dalam budaya toleransi yang mewarnai kehidupan masyarakat, menciptakan harmoni dan perdamaian.

Menurut seorang tokoh muda Papua Jan Cristhian Arebo, peran pemuda dalam menjaga kerukunan antar umat beragama sangatlah penting. Mereka, bersama dengan para pemimpin agama, seringkali menjadi penggerak dalam mempromosikan dialog, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan keyakinan.

“Kerukunan antar umat beragama di Papua bukan hanya sebagai simbol persatuan bangsa, tetapi juga sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai kelompok agama,” ungkap Arebo, Kamis (4/4) 

Salah satu wujud nyata dari toleransi ini terlihat dalam pembangunan tempat ibadah, di mana umat beragama saling bahu membahu dalam membangun masjid dan gereja. Budaya toleransi ini juga tercermin dalam tradisi Bakar Batu dari Suku Dani, yang menjadi sarana untuk mendamaikan perselisihan antar kelompok.

Ketua PWNU Papua Toni Wanggai menegaskan bahwa tradisi beragama di Papua bukan sekadar ritual, tetapi telah menjadi filosofi hidup yang menjunjung tinggi toleransi dan harmoni.

“Tradisi seperti “Satu tungku tiga batu” tidak hanya mencerminkan kehidupan sehari-hari, tetapi juga merupakan bukti konkret dari kekayaan budaya Papua yang memadukan adat dan agama,” kata dia. 

Antropolog M Ikhsan Tanggok menambahkan bahwa adat dan agama di Papua saling terkait erat dan melengkapi. Masyarakat Papua mampu menyeimbangkan kedua nilai tersebut, menciptakan harmoni yang memperindah panorama budaya dan sosial Papua secara keseluruhan.

“Harmonisasi, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman adalah bagian integral dari identitas orang Papua. Ini tidak hanya menambah keindahan alam Papua, tetapi juga melengkapi lanskap budaya dan sosial yang mempesona,” tandas dia.

Diharapkan bahwa semangat harmoni yang dirasakan saat bulan Ramadhan dan Idulfitri di Papua dapat menjadi contoh bagi dunia, bagaimana sebuah wilayah yang mayoritas beragama Kristen dapat menghargai kelompok minoritas di dalamnya. Papua terus berkomitmen untuk menjaga perdamaian dan memperkuat citranya sebagai wilayah yang harmonis dan damai bagi semua.