December 3, 2021

Portal Nawacita

Bersatu Kita Maju

Pandemi Sebagai Peluang di Tengah Tantangan

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menjelaskan, investasi memiliki peran sangat penting dalam rangka mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo bahwa transformasi ekonomi harus didorong untuk mengarah pada hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah. Indonesia tidak boleh dikenal dunia sebagai pengimpor bahan baku mentah.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam diskusi webinar yang digelar oleh Ikatan Alumni Harvard di Indonesia (HCI) secara virtual, Kamis (21/10/2021).

“Saya berpendapat bahwa dalam proses menggiring ke sana, penting melakukan investasi berkelanjutan, salah satu di antaranya kegiatan investasi yang berbasis ekonomi hijau dan ekonomi biru,” ujar Bahlil melalui keterangan tertulis.

Bahlil menuturkan, pandemi Covid-19 memberikan banyak pelajaran penting bagi seluruh golongan masyarakat di Indonesia. Selain tantangan dan pelajaran berharga, pandemi ini juga membuka begitu banyak peluang bagi Indonesia untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kami, di Kementerian Investasi, menganggap pandemi ini sebagai peluang di tengah tantangan,” kata Bahlil. Baca juga: Simak Tiga Strategi Investasi Jelang Akhir Tahun

“Kenapa saya katakan sebagai peluang, yang pertama kita melakukan reformasi terhadap regulasi kita yang tumpang tindih,” imbuh dia. Selain itu, imbuh Bahlil, pandemi memberi kesempatan bagi Indonesia untuk melakukan konsolidasi domestik.

Di awal pandemi menggoyang ekonomi global pada 2020, investasi asing ke Indonesia turun signifikan. Namun, ekonomi RI masih lebih baik dibandingkan negara lain karena ditopang oleh investasi domestik. “Ini harus dilihat sebagai peluang,” kata dia.

Senada, CEO Indonesia Investment Authority (INA) Ridha Wirakusumah menilai, pandemi telah memberikan pelajaran dengan munculnya hal-hal yang masih perlu diperkuat di Indonesia, seperti sistem dan layanan kesehatan, logistik dan infrastruktur, teknologi digital, juga kompetensi sumber daya manusia.

“Pandemi telah mengekspos kelemahan-kelemahan kita, dan saya rasa justru ini bisa jadi kesempatan Indonesia untuk memperbaiki akar masalahnya juga memperkuat area-area tersebut dengan lebih terfokus. Seperti di bidang infrastruktur kesehatan, digital economy, digital infrastructure, kemampuan SDM, dan sustainability,” kata dia.

Ridha mengatakna, INA akan terus menggali berbagai peluang kolaborasi dengan sejumlah investor baik investor dalam negeri maupun investor global untuk berinvestasi di Indonesia. Menurut dia, para investor memiliki ketertarikan yang tinggi untuk berinvestasi di Indonesia karena punya potensi yang luar biasa. Apalagi Indonesia kini terus membenahi ekosistem investasi, kepastian regulasi, serta proses investasi yang jelas dan transparan.

“Tugas kita semua adalah untuk memastikan potensi itu dapat direalisasikan. Oleh karena itu, semua elemen pelaku usaha, pemerintah, dan stakeholder terkait harus bergerak bersama menuju satu tujuan,” tutur dia.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Arsjad Rasjid mengatakan, saat ini Indonesia sedang menghadapi dua perang sekaligus yaitu pandemi Covid-19 dan ekonomi.

Untuk menghadapi kedua peperangan tersebut, dibutuhkan gotong royong. Gotong royong skala besar yang melibatkan berbagai elemen pengusaha, masyarakat dan pemerintah untuk melawan pandemi dan pada saat yang bersamaan menjaga serta memulihkan sektor ekonomi.

“Kadin percaya kedua perang ini dapat kita menangkan dengan gotong royong, dan dengan pendekatan gotong royong inilah kita melawan pandemi, mulai dari vaksinasi, hingga berbagai program dan aktivitas untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, termasuk membantu pada pelaku mikro dan UMKM kita untuk tetap tangguh menghadapi pandemi dan bisa naik kelas. Tentunya ini akan memperkuat strategic road map kita menuju Indonesia emas 2045,” jelasnya.

Arsjad mengatakan bahwa semua elemen bangsa harus bekerja sama demi memastikan proyeksi Indonesia sebagai negara dengan ekonomi ke-7 di dunia pada tahun 2030 dapat tercapai sebagai milestone dari visi Indonesia Emas 2045.

Menurut dia, ada lima cara untuk merealisasikan hal tersebut, yakni mendorong teknologi digital untuk meningkatkan sektor pertanian, mempercepat adopsi Industri 4.0, membawa teknologi modern kepada pelaku UMKM, memfokuskan program pelatihan pada kebutuhan masa depan dalam hal ini membangun rantai pasokan dan kekuatan logistik, serta mengeksekusinya secara konsisten.