October 28, 2021

Portal Nawacita

Bersatu Kita Maju

Cegah Euforia Keberhasilan Penanganan Covid-19 Menjadi Gelombang Ketiga Kasus Covid-19

Jakarta – Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan merespons prediksi epidemiolog yang memperkirakan puncak gelombang ketiga Covid-19 akan terjadi akhir Desember 2021 hingga Januari 2022. Ada sejumlah hal yang bisa dilakukan untuk menekan terjadi lonjakan kasus.

Pertama dari sisi edukasi kepada masyarakat. Masyarakat harus terus diberikan edukasi dan pemahaman untuk tetap mewaspadai penyebaran Covid-19. “Selalu edukasi kepada masyarakat tidak boleh euforia,” kata Nadia, Minggu (10/10) yang lalu.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI ini pun meminta masyarakat menaati protokol kesehatan. Baik ketika beraktivitas di dalam maupun luar rumah. “Adanya SOP pelaksanaan prokes di 6 sektor serta pemanfaatan aplikasi PeduliLindungi saat masyarakat melakukan aktivitas di tempat publik,” jelasnya.

Salah satu momentum yang menjadi sorotan adalah liburan akhir tahun. Dikhawatirkan berdampak meningkatnya kasus Covid-19. Merespons kekhawatiran tersebut, pemerintah mendorong masyarakat tetap menjalankan prokes.

Menurutnya, testing dan tracing harus ditingkatkan sebagai bagian deteksi dini. Termasuk pengaktifan satgas di kantor, pusat perbelanjaan, lokasi pariwisata. “Apakah nanti ada kebijakan pengetatan atau pelarangan ini terus dimonitor sesuai perkembangan situasi,” lmbuh dia.

Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria meminta warga DKI Jakarta untuk tidak lengah dan euforia atas keberhasilan mengendalikan pandemi Covid-19. Riza minta masyarakat tetap disiplin menjalakan protokol kesehatan secara ketat dalam berbagai aktivitas untuk mengantisipasi terjadi gelombang ketiga Covid-19 yang diprediksi bisa terjadi bulan Desember mendatang.

“Kita tidak boleh abai, tidak boleh lengah, tidak boleh euforia, tidak boleh kendor, tetap laksanakan protokol kesehatan secara baik, secara bijak,” ujar Riza di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (30/9/2021) yang lalu. Riza mengatakan, masyarakat perlu belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya di mana kasus aktif Covid-19 kembali naik ketika ada pelonggaran kegiatan. Pasalnya, pelonggaran kegiatan membuat orang banyak beraktivitas dan berinteraksi serta mulai mengabaikan protokol kesehatan sehingga potensi penularan kasusnya semakin tinggi.

Sebelumnya, epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman secara spesifik mengungkap gelombang ketiga pandemi Covid-19 kemungkinan akan terjadi akhir Desember 2021 hingga awal Januari 2022. Puncak gelombang ketiga ini terjadi sekitar awal Januari 2022. “Sebetulnya potensi gelombang ketiga ini terjadi atas kombinasi mobilitas, vaksinasi yang belum kuat, pelonggaran-pelonggaran, kemudian juga potensi selain varian Delta ada varian lain. Ini yang akan membuat gelombang ketiga hampir sulit dihindari,” kata Dicky.

Menurut Dicky, gelombang ketiga kemungkinan tidak sebesar gelombang kedua pandemi Covid-19 yang terjadi pada pertengahan Juli 2021. Pada gelombang ketiga, skenario terburuk penambahan kasus Covid-19 harian sebanyak 50.000. Sementara pada gelombang kedua, skenario terburuk mencapai 400.000 kasus per hari. (*)