Portal Nawacita

Bersatu Kita Maju

Cadangan Devisa Rebound, Rupiah Keluar Dari Tekanan, BI Tetap Waspada

Pekan lalu, Bank Indonesia mengumumkan peningkatan signifikan dalam cadangan devisa negara, yang melonjak hingga mencapai 139 miliar USD, naik dari posisi sebelumnya sebesar 136 miliar USD. Sebelumnya, ada tiga skenario yang diperkirakan terkait cadangan devisa ini: skenario terburuk sebesar 133 miliar USD, skenario baseline sebesar 135 miliar USD, dan skenario terbaik sebesar 141 miliar USD. Peningkatan yang terjadi mendekati skenario terbaik.

Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan cadangan devisa ini adalah penerbitan Global Bond dan Samurai Bond sekitar 200 miliar yen oleh pemerintah. Selain itu, penerimaan pinjaman lain juga turut membantu perkembangan cadangan devisa internasional Indonesia.

Dampak Terhadap Rupiah dan Kebijakan Bank Indonesia

Dengan cadangan devisa yang mencapai 139 miliar USD, Bank Indonesia kini memiliki ruang lebih lega untuk melakukan intervensi di pasar. Bank Indonesia dapat melakukan intervensi triple di pasar spot, pasar obligasi, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) tanpa harus menaikkan suku bunga. Meskipun tekanan terhadap rupiah masih ada, terutama dari sentimen global yang dipengaruhi oleh kebijakan Federal Reserve AS, setidaknya dengan cadangan devisa yang kuat, BI dapat lebih leluasa mengendalikan volatilitas rupiah.

Diharapkan, dengan kondisi ini, tekanan terhadap rupiah dapat berkurang, dan nilai tukar rupiah dapat bertahan di kisaran 16.100 IDR/USD dalam bulan ini, meskipun masih berfluktuasi antara 16.000 hingga 16.300 IDR/USD.

Tantangan dan Kewaspadaan

Namun demikian, Bank Indonesia tetap perlu waspada terhadap beberapa hal. Meskipun inflasi sudah mereda dan berada di level yang cukup baik yaitu 2,84%, sedikit di bawah konsensus 2,97%, hal ini sebagian besar disebabkan oleh pergeseran masa panen yang membantu deflasi di sektor pangan. Di sisi lain, terdapat indikasi melemahnya permintaan domestik, yang tercermin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen dari 127 ke 125 dan terjadinya deflasi di sektor finansial.

Dari sisi suplai, Purchasing Manager Index (PMI) di sektor manufaktur juga menunjukkan penurunan dari 152,9 ke 152,1, yang mengindikasikan adanya tekanan pada ongkos produksi. Kombinasi penurunan permintaan dan produksi ini menandakan bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 5% tahun ini mungkin sulit dicapai.

Sentimen Pasar

Sentimen positif dari cadangan devisa yang kuat diharapkan mampu menarik kembali aliran modal asing ke Indonesia dan meredakan tekanan jual di pasar. Analis memproyeksikan indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di kisaran 6990 hingga 7060 dengan potensi rebound yang baik.

Di pasar obligasi, sentimen bullish juga terlihat dengan tren penurunan yield dari 6,9% ke 6,76% dalam pekan ini. Obligasi dengan tenor di atas 10 tahun menunjukkan potensi capital gain yang menarik untuk dicermati.

Demikian ulasan pasar pekan ini dari Samuel Sekuritas. Sampai bertemu di pekan depan untuk ulasan pasar berikutnya.